Minggu, 24 Februari 2013

Substansi Hawa Nafsu Manusia



SUBSTANSI HAWA NAFSU MANUSIA

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘nafsu’ bermakna positif dan negatif, sama halnya dengan istilah al-nafs dalam Alquran. Dalam pengertian negatif, kata ini diartikan sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat tidak baik. Dan berkonotasi positif ketika dipahami sebaga gairah, selera atau keinginan terhadap sesuatu.
Dalam segi postitif, peranan hawa nafsu merupakan daya yang paling mampu membentuk suluk (perilaku) manusia. Oleh sebab itu Allah banyak mengaitkan masalah penting dengan hawa nafsu. Nafsu menjamin terpenuhinya beragam kebutuhan primer seperti interaksi seksual, reproduksi dan sebagainya. Kedua hal itu merupakan bagian vital bagi kesempurnaan hidup manusia. Tanpa proses itu, spesies manusia akan mati dan punah. Untuk itu Allah menganugerahi nafsu seksual demi menjamin kelangsungan dan kelestarian manusia. Demikian juga Allah menggantungkan fisik manusia pada nafsu makan dan minum. Tanpa nafsu itu manusia akan dapat menumbuhkan lagi sel-sel yang telah rusak oleh gerakan dan kerja.
Selanjutnya, hawa nafsu juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam merusak hidup manusia. Setan beroperasi dalam jiwa manusia melalui hawa nafsu. Dalam Alquran Allah memerintahkan kita untuk mencegah jiwa dari rayuan hawa nafsu bahkan menyingkirkannya jauh-jauh. Perintah tersebut sesuai dengan Alquran Surah Shaad ayat 26:
“… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…”
Dalam menghadapi hawa nafsu tersebut, Allah telah member manusia akal dan agama sebagai dua petunjuk menuju jalan yang lurus. Peran akal ialah mangatur perilaku manusia dari dalam jiwa, sedangkan agama mengatur perilaku manusia dari luar. Sebagaimana diriwayatkan dari Amir Al-Mukminin, Sayyina Ali Ra. “Akal merupakan syariat dalam diri manusia, sedang syariat merupakan akal di luar diri manusia”
###@###

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar