Minggu, 24 Februari 2013

Jigsaw Learning


Jigsaw Learning


1.      Pengertian Jigsaw Learning
Jigsaw Learning dapat diartikan sebagai sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur.[1]
Guru diharapkan mampu menggunakan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Model Jigsaw Learning yang penuh dengan bentuk aktivitas peserta didik tentunya menekankan pentingnya peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered, arah pembelajaran tidak hanya berasal dari guru tetapi peserta didik juga dapat belajar dengan sesamanya. Selain itu, peserta didik tidak hanya mempelajari materi saja tetapi juga keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas yang dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antara anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antaranggota kelompok selama kegiatan pembelajaran.
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Dalam teknik ini guru memperhatikan latar belakang pengalaman peserta didik dan membantu peserta didik aktif dalam belajar.[2]
Model pembelajaran Jigsaw Learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dalam pembelajaran Jigsaw Learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model Jigsaw Learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.
MI Miftahul Mubtadi’in merupakan salah satu sekolah dasar yang selalu berusaha meningkatkan prestasi hasil belajar peserta didiknya. Salah satu usaha yang dilakukan yaitu dengan menerapkan berbagai model pembelajaran, yang bertujuan meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, sehingga hasil evaluasi belajarnya lebih baik. Berdasarkan latar belakang diatas, mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh model pembelajaran Jigsaw Learning terhadap hasil belajar.
Wina Sanjaya, juga menuliskan pengertian Jigsaw Learning atau pembelajaran kooperatif dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, yaitu: Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang heterogen.[3]
Pembelajaran kooperatif mengacu pada berbagai macam metode pengajaran dimana para peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu dalam mempelajari materi pelajaran. Selain itu, alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju peserta didik. Peserta didik bisa juga saling mengajar dengan sesama peserta didik lainnya.
Dari beberapa penjelasan tersebut, Jigsaw Learning dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menerapkan sistem pengelompokan atau tim kecil, antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang berbeda untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur.
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan”.
Pada model pembelajaran tipe Jigsaw terdapat kelompok asli dan kelompok ahli. Kelompok asli yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa kelompok ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
2.      Ciri-ciri Jigsaw Learning
Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.    Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b.   Kelompok dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c.    Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda beda.
d.   Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.[4]
3.      Model-model Jigsaw Learning
Dalam pembelajaran Jigsaw Learning terdapat dua pengelompokkan, yaitu :
a.    Kelompok jangka pendek, artinya jangka waktu untuk bekerja dalam kelompok tersebut hanya pada saat itu saja, jadi sifatnya insidental.
b.   Kelompok jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok itu bukan hanya pada saat itu saja, mungkin berlaku untuk satu periode tertentu sesuai dengan tugas atau masalah yang akan dipecahkan.[5]
4.      Langkah-langkah Jigsaw Learning
Langkah-langkah melaksanakan teknik Jigsaw dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan segmen yang ada.
b.   Sebelum bahan pelajaran dibagikan guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas.
c.    Guru membagi materi yang berbeda pada setiap kelompok untuk dipelajari, didiskusikan dan dipahami.
d.   Setelah selesai, setiap kelompok mengutus delegasi kekelompok lain untuk menjelaskan materi yang telah dipelajari dan didiskusikan.
e.    Guru mengembalikan suasana kelas seperti semula kemudian menanyakan seandainya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
f.    Guru memberikan pertanyaan pada peserta didik untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.
g.   Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.[6]




[1] Anita Lie, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas, (Jakarta: PT Grasindo, 2005), Cet. 1, hlm. 12.
[2] Ibid, hlm. 21.
[3] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), Cet. 3, hlm. 241.

[4] Muslimin Ibrahim, dkk., Pembelajaran Kooperatif, ( Surabaya: University Press, 2000), hlm. 7.
[5] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009), Cet. X, hlm. 83.

[6] Ismail SM, Strategfi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAIL Media Group, Cet. IV. 2009). hlm. 83.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar