BANJIR MAKANAN

Awal Perkuliahan Semester 2

Untuk mengawali kuliah kembali, rasanya berat sekali, karena sudah menikmati yang namanya liburan, senang-senang tanpa beban tugas dari dosen. Tetapi, namanya suatu kewajiban yach mau nggak mau harus tetap dilakukan, meskipun dengan rasa berat hati. Tetapi, rasa rindu dan kangen tuk bertemu dengan teman-teman dari penjuru tanah air ini juga sudah tak terbendung lagi, kangen canda tawa di kelas, makan bersama di kantin atau food court, jalan bareng, dan sebagainya.

Sebelumnya, perkenalkan kami adalah mahasiswa Kelas P2TK H Program Studi Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana,Universitas Negeri Surabaya Angkatan 2015. Kami adalah orang-orang beruntung yang mendapatkan bantuan untuk kuliah lagi dari Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kami sekelas berjumlah 24 orang, seperti yang aku katakan tadi, kami berasal dari berbagai penjuru di negeri ini, ada yang dari Makasar, Nunukan, Tarakan, Mataram, Pasuruan, Malang, Jombang, Wonosobo, Prubalingga, Surabaya, Sukoharjo, Bantul, Sleman, Yogyakarta, Gresik, Gunung Kidul, Indramayu, Bekasi, Bogor, dan Serang.

Pertama kali menginjakkan kaki kembali ketika habis liburan semester, rasanya canggung, karena sudah lama tidak ke kampus, ada yang aneh rasanya.. he.. he.. he.. dan ketika sampai di kampus, teman-teman sekelas sudah duduk berjajar di depan perpustakaan, dengan ketawa khas kelas P2TK H, yang menggemparkan. Tau sendiri lah, gimana ketawanya, ketika kita masuk pintu K.10.1 saja ketawa kelas P2TK H sudah terdengar, padahal kelas kita di ujung selatan. Tapi, itulah ciri khas kelas kita.

Tak lama kemudian, kita pun bergegas masuk kelas di K.10.1.05., ada yang aneh dengan keadaan kelas, yach.. kelas kita dipenuhi dengan makanan khas dari berbagai daerah ada pudak  dari Gresik, kripik apel dan tempe dari Malang, wingko, lapis Bogor, krupuk bawang camilan khas Makasar. Tetapi, ada yang kurang dari kelas kita, ada teman yang sakit dan dirawat di RSI Surabaya Jalan Ahmad Yani.

Sedih, tapi ada pengalaman lucu juga ketika satu di kelas dengan banyak makanan dan satu di rumah sakit. Ceritanya  berawal dari teman kelas yang unggah foto-foto makanan di kelas ke grup WA, mungkin ini untuk yang di rumah sakit biar ngiler liat makanan yang sebanyak itu, tetapi yang di rumah sakit tidak mau kalah, mereka juga unggah foto-foto makanan, ceritanya buat tandingan. Dan yang lebih gila lagi, foto makanan di rumah sakit atasnya ditaruh uang.. ha.. ha.. ha.. ha.. Perang foto makanan pun terjadi, dengan bebagai macam makanan dan ekspresi dari teman-teman diunggah di grup WA kelas. Tetapi ini nggak berlangsung lama, karena teman-teman yang di kelas harus ke rumah sakit untuk jenguk teman yang lagi sakit, dan alhamdulillah.. pada waktu itu juga, teman kita dipebolehkan untuk pulang, jadi kita ceritanya jemput untuk pulang.... he.. he.. he..

Semoga jalinan persaudaraan ini, masih terjalin meskipun kita sudah lulus dan kembali ke asal daerah masing-masing. Amin....!!!


Berbagai Jenis Makanan di Kelas

Foto Tandingan dari RSI Surabaya

Waktu Jemput Teman Pulang dari RSI Surabaya

READMORE
 

GEN: SI KECIL CABAI RAWIT

Sampul Buku "Rahasia Keajaiban Gen"

A.  Identitas Buku
Judul Buku             : Rahasia Keajaiban Gen
Penulis                    : Sitiatava Rizema Putra
Tahun                     : November 2012
Penerbit                  : Bukubiru
Kota Terbit             : Jogjakarta
Tebal Buku             : 168 Halaman

B.  Ringkasan Isi Buku
Gen dapat dianalogikan sebagai cabai rawit yang kecil tapi pedas luar biasa. Begitu pula gen, meskipun bentuknya kecil, karena memang gen merupakan benda terkecil di dalam kromosom, gen memiliki sejuta keajaiban dahsyat yang tidak dimiliki oleh organ-organ vital lainnya. Gen merupakan substansi hereditas, di mana gen memegang peranan penting dalam penurunan/pewarisan sifat dalam hereditas. Itu artinya, sifat-sifat yang dimiliki anak merupakan warisan dari orang tua melalui gen. Tidak hanya sifat-sifat saja yang dapat diwariskan melalui gen, tetapi berbagai penyakit pun juga bisa diwariskan, seperti penyakit kebutaan, saraf, luka sulit kering (darah keluar terus, hemofili), serta berbagai macam penyakit lain.

Gagasan tentang gen pertama kali dikemukakan oleh seorang pendeta Moravia yang bernama Gregor Mendel, dengan menerbitkan penelitiannya mengenai kacang polong pada tahun 1865, pendeta ini berspekulasi bahwa adanya suatu bahan yang terkait dengan suatu sifat atau karakter di dalam suatu tubuh individu (manusia, hewan, tumbuhan) yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ia menyebutnya sebagai faktor.

Gen yang merupakan unit pewaris sifat bagi organisme hidup, tersusun atas DNA dan RNA. Yang mana gen memiliki sifat dan fungsi sebagai berikut:
Sifat
Fungsi
Sebagai zarah tersendiri yang terdapat dalam kromosom
Menyampaikan informasi genetika dari generasi ke generasi
Mengandung informasi genetik
Menentukan sifat-sifat pada keturunannya
Dapat menduplikasi diri saat terjadi pembelahan sel
Mengontrol dan mengatur metabolisme dan perkembangan tubuh
Mempunyai tugas khusus sesuai fungsinya

Kerjanya ditentukan oleh susunan kombinasi basa nitrogennya


Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk nyata dari kerja gen tampak pada ciri fisik yang melekat pada diri, misalnya bentuk tubuh, raut muka, warna rambut, warna kulit, itelegensia, bakat, sifat-sifat, dan penyakit. Terkait dengan bentuk tubuh dan warna kulit misalnya, ada anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperyi bapaknya, rambut keriting, dan warna kulit putih seperti ibunya. Jika anak yang pembawaan gemuk seperti ini, bagaimanapun susah hidupnya nanti, ia akan sulit menjadi kurus. Sebaliknya, sedikit saja ia makan, ia akan mudah menjadi gemuk. Demikian juga anak yang berambut keriting, sekeras apapun usaha yang dilakukan untuk meluruskannya, pada akhirnya rambutnya akan kembali menjadi keriting.

Gen yang merupakan pembawa informasi genetik kepada generasi berikutnya, ternyata gen menyimpan sejumlah rahasia ajaib yang mungkin belum banyak kita ketahui. Berbagai penelitian dan temuan di dunia modern ini telah mengonfirmasi bahwa gen manusia benar-benar merupakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terhampar dalam diri manusia. Berikut rahasia dan keajaiban dari gen manusia:
1.      Gen manusia warisan dari Neanderthal
2.      Gen manusia sama dengan gen terumbu karang
3.      Gen Bornavirus ada dalam DNA manusia
4.      Gen manusia sama dengan gen alien
5.      Gen manusia hampir sama dengan simpanse dan bonobo
6.      Gen manusia hampir sama dengan gen kanguru
7.      Mutasi gen dapat menciptakan manusia serigala

Selain itu, keajaiban gen yang lainnya adalah di dalam DNA manusia terdapat ayat suci Al-Qur’an, sebagaimana yang diungkap oleh Dr. Ahmad Khan, seorang lulusan summa cumlaude dari Duke University serta seorang ilmuwan yang kapasitasnya telah diakui secara internasional. Melalui penelitiannya, ia berhasil membuktikan keterkaitannya antara Al-Qur’an dan rancang struktur tubuh manusia. Dalam temuannya didapat informasi lain selain konstruksi polipeptida yang dibangun dari kodon DNA, yang mana penelitian pertamanya di dorong oleh Qs. Fushshilat ayat 53, yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil penemuan Profesor Keith Moore, ahli embriologi dari Kanada.
READMORE
 

BUMI PASUNDAN

“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” (M.A.W. Brouwer)

Siapa yang tak tahu kota Bandung?, kota yang pembangunan sangat pesat di bawah pimpinan Walikota Ridwan Kamil sekarang, dengan tata letak kota yang menakjubkan, tertata dengan rapi dan indah, sehingga pengunjung yang berkunjung ke kota ini menjadi betah, dan ketika pulang pengen berkunjung ke kota ini kembali.  

Sabtu, 29 Oktober 2016

Sabtu malam, udara dingin yang terasa menusuk kulit ditambah dengan habis hujan yang terasa ketika kaki menginjakkan rumput sintetis depan masjid Raya Bandung yang basah, tetapi ini tidak menyurutkan kami untuk menikmati indahnya malam kota Bandung di sekitaran Alun-alun Kota Bandung dan Jalan Asia Afrika.

Malam ini ramai banget, mungkin karena hari ini juga sabtu malam, ditambah lagi ada kegiatan tabligh akbar santunan anak yatim oleh komunitas Asep-asep di depan masjid raya Bandung. Terlihat juga anak-anak sedang bermain bola, berlarian, atau hanya sekedar foto dengan latar masjid Raya Bandung.  

Ditemani dengan seorang teman yang paham akan kota Bandung, kita menyusuri jalanan Asia Afrika, hingga berakhir di titik nol kota Bandung. Ketika berjalan banyak spot-spot bagus yang bisa digunakan sebagai latar foto, mulai dari tugu Asia Afrika yang berbentuk bola dunia dengan bertuliskan nama-nama negara di kawasan Asia Afrika, gedung merdeka, tugu titik nol kota Bandung, serta komunitas yang memakai baju karakter dari tokoh kartun atau horor seperti pocong, valak, suster ngesot, dan sebagainya.

Ketika kita asyik menyusuri jalan, kita dibuat berhenti dengan satu fasilitas yang membuat kita tahu akan kabar terkini akan kota Bandung dan sekitarnya, yach.. kita dibuat berhenti ketika sampai di depan kantor koran Pikiran Rakyat. Di depan kantor tersebut terdapat sebuah layar digital, yang berisikan berita yang sedang dimuat, bukan hanya berita hari ini saja loh yang bisa diakses, berita kemarin-kemarin pun masih bisa diakses, sebuah fasilitas yang membuat warganya biar nggak ketinggalan berita, gratis pula. Selain itu, masih di sekitaran kantor Pikiran Rakyat juga terdapat sebuah mesin ketik kuno yang sangat besar yang bisa juga digunakan sebagai spot foto.

Bukan hanya spot foto yang menarik tuk dinikmati, kuliner khas kota Bandung pun wajib tuk dinikmati. Banyak penjual makanan di sekitaran alun-alun Bandung yang kita pilih, seperti batagor, seblak, dan sebagainya. Selain itu, kita juga bisa menemukan penjual minuman yang keliling menenteng keranjang jualannya.

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi” (Pidi Baiq)

Ber-selfi Ria


Pikiran Rakyat


Mesin Ketik Kuno


Tugu 0 Km Kota Bandung


Foto Bareng dengan Karakter Horor


Tugu Asia Afrika

READMORE
 

GRAFOLOGI

 
Abbe Jean Hyppolite Michon
Penemu Istilah Grafologi

A.  Identitas Buku

Judul                       : Mengenal Potensi Anak Melalui Tulisan Tangan
Penulis                    : Achsinfina H. Soemantoro
Tahun                     : Desember 2009 (Cetakan Kedua)
Kota Terbit             : Jakarta
Penerbit                  : PT. Grasindo
Tebal Buku             : xiv + 114 halaman

B.  Ringkasan Isi Buku

Menurut bahasa kata “grafologi” berasal dari akar bahasa Yunani graphein, yang berarti menulis, sedangkan akhiran “logos” atau “ologi” berarti sebuah cabang ilmu pengetahuan. Jadi, menurut istilah grafologi dapat diartikan sebagai bidang ilmu pengetahuan yang dipakai untuk menginterpretasi karakter dan kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya, atau dengan kata lain, grafologi merupakan ilmu analisis tulisan tangan.

Kata grofologi pertama kali diperkenalkan oleh pendidik yang mengabdikan banyak waktu pada ilmu tentang tulisan tangan dari Perancis yang bernama Abbe Jean Hyppolite Michon (1806-1881). Michon memperkenalkan nama grafologi untuk menjelaskan tentang kajiannya mengenai sistem untuk menganalisis tulisan tangan, yang menguraikan bagaimana elemen-elemen atau tanda-tanda tertentu (seperti goresan dan bentuk huruf seseorang) berhubungan dengan dengan ciri kepribadian tertentu.

Tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia sebagai gambaran dari kepribadian seseorang. Tulisan tangan adalah benar-benar tulisan otak, karena ia diorganisasikan secara pusat di dalam otak. Selain itu, mood (suasana hati) dan emosi juga mempengaruhi dalam perubahan-perubahan kecil dalam tulisan tangan, kalau mood-nya sedang bagus maka tulisannya bagus, begitu pula sebaliknya. Sebagaimana yang dikatakan oleh George Meyer, seorang psikater Jerman, bahwa mood (suasana hati) dan emosi berperan dalam perubahan-perubahan kecil dalam tulisan tangan.

Menganalisis tulisan tangan bukan berarti menganalisis apa yang ditulis oleh penulis, tetapi bagaimana ia menulis. Berikut ada beberapa hal yan harus diperhatikan ketika melakukan analisis tulisan tangan:

1.    Bentuk huruf, penggunaan huruf kecil apakah itu bentuknya membulat, tertutup/terbuka, atau menyerupai huruf cetak yang ada dibuku, hal ini menunjukkan tentang penerimaan terhadap aturan, perkembangan mental, dan sifat kepribadian yang lain, sedangkan huruf kapital mengartikan cita rasa dan kebanggaan.

2.  Mengukur kemiringan, kemirangan adalah ukuran responsibilitas emosinal. Semakin garis kemiringan condong ke kanan, penulisnya semakin responsif secara emosional, dikuasai oleh perasaan (hati) dan cenderung ekstrovert. Sedangkan, semakin ke kiri garis kemiringan tersebut, maka penulisnya semakin dipimpin oleh akalnya (kepala), bersikap objektif dan berstandar pada penilaian dan logika. Serta, semakin ke belakang atau ke kiri garis kemiringan itu, individu (penulisnya) semakin menunjukkan ketiadaan perasaan dan cenderung bersikap mementingkan diri sendiri.

3.      Spasi
a.    Spasi huruf dalam satu kata menggambarkan seberapa besar kepercayaan terhadap orang lain dan suara hati pribadi. Jarak yang proporsional di antara huruf-huruf menggambarkan tipe orang yang interaksi sosialnya cukup baik.
b.      Spasi kata dalam tiap kalimat menggambarkan tentang seberapa besar hubungan kedekatan si penulis dengan dunia luar. Jarak antarkata yang beraturan menggambarkan orang yang bijaksana dan memiliki kepribadian yang seimbang, mampu menerima setiap perubahan dan membagi kebaikan dengan orang lain.
c. Spasi baris antara baris pertama dengan baris selanjutnya, dapat digunakan untuk menganalisis penggambaran fokus penulisnya, kecenderungan arah, dan nilai waktu. Baris yang tersusun/terpola baik akan menggambarkan penulis yang memiliki pola pikir yang terencana dan sistematis, serta konsisten terhadap perilaku dan sikap dirinya.

4.      Dasar baris (base line), adakalanya dalam satu tulisan akan terlihat menaik atau menurun, hal tersebut berhubungan dengan titik pandang dan semangat penulisnya, apakah ia orang yang optimis atau orang yang skeptis. Tulisan yang menurun seringkali pertanda runtuhnya semangat/vitalis.

5.   Ukuran tulisan memberikan petunjuk kepada kita mengenai cara penulis mendekati situasi, misalnya mengamati secara umum atau terperinci. Ukuran tulisan, baik kecil maupun besar, keduanya menggambarkan karakter yang berbeda. Ukuran tulisan yang kecil menggambarkan orang tersebut sangat memperhatikan secara detail setiap sisi kehidupannya.

6.      Tekanan pada tulisan membantu interpretasi kita dalam mengetahui seberapa besar energi yang dimiliki oleh si penulis. Tekanan juga berhubungan dengan cita rasa dan dalam beberapa hal yang menyangkut vitalitas individu. Misalnya, jika tulisan tangan tidak memiliki tekanan maka orang tersebut tidak bersemangat dan kurang aktivitas, dan jika tekanan pena atau penulisannya tebal, tegas, dan tetap, kita berhadapan dengan karakter yang kuat. Sedangkan, jika tekanan pena terlihat tipis atau lembut, kita berhadapan dengan karakter yang lebih lembut dan mudah dipengaruhi.

7.  Wilayah tulisan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Max Pulver (1890-1953) seorang profesor di Universitas Zurich, menggolongkan tulisan tangan dibagi ke dalam tiga zona, yaitu atas, tengah dan bawah, yang mana masing-masing zona berhubungan dengan kepribadian yang berbeda. Zona atas adalah simbolisasi dari cita-cita, harapan, angan-angan dan spiritual, kehidupan fantastis, kerangka prinsip-prinsip, dan standar kehidupan penulis. Zona tengah dengan pendekatan realitas, cara-cara mengatasi masalah kebutuhan hidup dan material, sedangan zona bawah memberi petunjuk kepada kita mengenai kekuatan fisik, energi, potensi seksual, dorongan primitif, serta sikap terhadap materi.


Grafologi bukanlah sebuah ramalan yang dapat menggambarkan tentang masa depan dari penulisnya, akan tetapi tujuan pemanfaatan grafologi adalah untuk meneliti dan mengevaluasi kepribadian dan karakter, sebagaimana penggunaan tes psikologi yang lainnya. Bedanya, grafologi tidak akan pernah menjadi kuno, karena penerapannya tidak menggunakan pertanyaan tes yang selalui diperbarui, tidak mendiskriminasi hal yang berhubungan dengan kebudayaan karena tidak membedakan ras, kebudayaan dan gender untuk kepandaian dan kepribadianm sehingga hasil analisis tulisan tangan cenderung objektif, tidak diskriminatif, dan tidak bias. Meskipun tulisan tangan dapat memberikan wawasan tentang keadaan pikiran, kemampuan, kecocokan penulisnya dengan orang lain.
READMORE
 

KETIKA TA-KU DICORET DOSPEM

Sebelumnya perkenalkan, aku ulum, mahasiswa tingkat akhir yang lagi nyusun TA (Tugas Akhir). Pasti yang sudah lulus dari Perguruan Tinggi tahu, bagaimana dilemanya ketika hadapin TA, berikut sedikit cerita “Bagaimana Dilemanya Ketika TA-Ku Dicoret Dospem”

TA merupakan suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh mahasiswa jika pengen lulus, kalo nggak pengen yach nggak usah dikerjakan. Ada temenku S-1 dulu hingga karang tidak lulus bahkan sudah dianggap drop out gara-gara TA-nya tidak dikerjakan. Menurutku, TA merupakan penentu lulus atau tidaknya di Perguruan Tinggi, kalo di Sekolah semacam UAN-nya.

Begitu semester ini sudah dapat mengambil mata kuliah TA, hati begitu senangnya karena lulus sudah di depan mata, meskipun banyak yang harus dilalui, seperti ujian proposal, revisi, pengambilan data, ujian TA, revisi, dan publish. Ketika Ketua Prodiku mengumumkan nama-nama dosen pembimbing mahasiswanya, ketika itu juga aku langsung SMS dosen pembimbing pertama ku. Memberitahu beliau, kalau aku adalah mahasiswa bimbingannya dan kapan aku bisa menemui terkait dengan judul yang sudah saya siapkan.

Wich.. dapet fast respon dari sang dosen, langsung di balas, dan ketika itu juga bertemu dengan beliau. Nggak tau harus apa saja yang dibawa, akhirnya sebelum ketemu beliau, aku ketik judul yang saya akan ajukan, dan aku print di koperasi kampus. Judul yang aku ajukan cuma satu judul, tanpa ada alternatif judul lain, karena aku sudah mantap dengan judul yang mau aku angkat, perkara itu nanti tidak disetuju, berarti nanti nyari referensi judul di perpustakaan. Alhamdulillah... judulku langsung disetujui sama beliau, meskipun ada perubahan sedikit, terkait dengan perubahan redaksi saja.

Dua minggu kemudian, aku kembali bertemu dengan beliau, terkait dengan Bab I, dan waktu itu harus ditinggal, dan bisa diambil 3 hari berikutnya. Setelah 3 hari kemudian, aku kembali bertemu dengan beliau tuk ambil Bab I aku, dan syukur tanpa ada coretan yang berarti, cuman terkait dengan teknis saja, seperti tata letak gambar yang harus diberi sumber, salah ejaan, dan kutipan.

Untuk bimbingan dengan dosen, aku planning seminggu sekali harus bertemu dengan dosen pembimbingku, meskipun itu hanya memberikan hasil revisian sebelumnya, atau terkait dengan Bab berikutnya.

Dilema menyerangku ketika mulai sudah di Bab II Kajian Pustaka, dan Bab III Metode Penelitian, coretan-coretan dosen pembimbingku mulai mewarnai kertas tulisannya. Terkait dengan Bab II, coretan dosenku terkait dengan ulasan yang aku buat, kurang tajam, sehingga perlu ditambah dengan ulasan-ulasan yang lain. Berarti, aku harus kembali cari referensi dan bergulat dengan jurnal nasional maupun internasional. Serta harus, kembali merepotkan teman, karena harus bertanya terkait dengan terjemahan jurnal internasional, meskipun aku juga sudah menggunakan google terjemahan, tetapi kadangkala terjemahannya tidak pas, dan harus bertanya kepada teman. Ini juga yang membuat dilema, lemah berbahasa Inggris.

Coretan Dospem Ku

Dan yang membuat lebih dilema lagi adalah ketika aku bimbingan Bab III, aku ketuk pintu ruangan dosen pembimbingku, ucapkan salam, dan aku duduk sembari aku sodorkan tulisan Bab III ku. Oh yach... setiap bimbingan, bagian paling depan, selalu aku berikan cover. Dibukalah cover-nya sama dosen pembimbingku, dan ketika itu juga dosen pembimbingku bilang, “Kok pakai buku referensi ini, jangan pakai buku itu, ubah semuanya, terkait dengan buku itu”, dalam hatiku berkata “Ampun... harus ngubah semuanya di Bab III, berarti aku harus ngulang Bab III dari awal cerita”.

Di sini aku mulai putus asa, dilema, campur aduk jadi satu, bahkan sudah berpikiran macam-macam, mulai dari “Kenapa aku dulu kuliah lagi yach..??”, “Ternyata kuliah pas semester akhir seperti ini nggak enak, capek, capek pikiran, capek fisik, dan capek semuanya”. Bahkan, karena saking putus asa dan dilemanya, TA-ku nggak aku sentuh selama 2 minggu, nggak kepikiran bagaimana nasibnya kalau nggak dikerjakan, pokoknya nggak mau ambil pusing masalah TA.

Semangat ku bangkit ketika aku baca bukunya Ariesandi Setyono, yang berjudul “Mathemagics: Cara Jenius Belajar Matematika”, kebetulan juga aku ambil peminatan matematika. Dalam bukunya beliau, ada halaman yang menceritakan tentang placebo effect. Berikut ceritanya:

Seseorang yang sakit diberi obat yang dimasukkan dalam sebuah kapsul. Ia diberitahu obat yang diminumnya adalah yang terbaik dan manjur. Dalam waktu yang cukup singkat setelah minum obat tersebut, si penderita sembuh. Satu hal yang tidak diketahuinya adalah kapsul tersebut kosong. Tidak ada obat di dalamnya. Mengapa dia sembuh? Karena ekspektasinya begitu tinggi terhadap obat tersebut. Kita bisa menyebutnya hal itu sebagai sugesti. Ya memang benar, self-suggestion yang sangat kuat dapat mempengaruhi pikiran bawah sadar kita untuk bertindak memerintah pikiran sadar memenuhi apa yang telah diprogramkan.

Dari penggalan cerita itulah aku mulai bangkit tuk kembali mengerjakan TA-ku, dan selama aku dilema dan putus asa, yang membuat seperti itu adalah diriku sendiri. Semuanya disebabkan oleh pikiran dan keyakinan (hati) atau self-suggestion yang terlalu kuat akan gagal, putus asa, dan dilema. Sekali lagi semuanya karena self-suggestion kita sendiri. Jadi, mulai sekarang aku tanamkan dalam hati serta pikiranku akan self-suggestion yang begitu tinggi akan keberhasilan TA-ku dan berbuah manis dengan dipindahnya kucir toga nanti ketika wisuda, serta buang jauh-jauh akan negative thinking, dan diganti dengan postive thinking.

Tulisan ini ditulis dalam rangka mengikuti "Lomba Blog "DILEMA” yang diselenggarakan oleh Murtiyaniri dari IPB.


READMORE
 

PKM-KU (PART 2)

Sabtu, 29 Oktober 2016

Hari ini kegiatan di awali dengan sarapan bersama, serta menyiapkan bekal untuk perjalan menuju Kota Bandung. Yach.. hari ini harus menuju ke Bandung, karena besoknya harus jemput dosen pembimbing, yang sekaligus sebagai pemateri di acara seminar dan workshop kami. Kegiatan seminar dan workshop yang kami lakukan ini, merupakan bentuk kerja sama dengan pengurus PGRI Cabang Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Selain merupakan program PPL dari kami, acara ini juga dikemas dalam rangka memperingati HUT PGRI yang ke-71 tahun 2016.

Sedikit cerita tentang sarapan yang kita santap bersama, siapa yang memasak..?? terkait hal itu, kita sekelompok bagi tugas, meskipun tanpa dikomando dan terjadwal secara rinci. Kita saling tanggap dan membantu, mulai dari yang kebagian belanja ketika subuh petang, menyiapkan kopi dan teh, memotong ayam dan mencabuti bulunya, memasak nasi, goreng ikan, mengupas mangga buat cuci mulut, mencuci piring dan peralatan masak bekas dipakai, bahkan mencuci mobil.

Setelah kita semua sudah siap dan selesai sarapan, pertama kita berkunjung ke SD Negeri Soge, untuk bersilaturrahmi dengan kepala sekolah dan dewan guru yang ada, karena salah satu dari teman kita merupakan guru di SD tersebut. Selain itu, kita juga meminta bantuan kepada kepala sekolah untuk menjadi pembaca doa ketika opening ceremony, serta meminjam print sekolah untuk mencetak sertifikat dan keperluan kesekretariatan lainnya.

Kegiatan selanjutnya, adalah bertemu dengan pengurus PGRI Cabang Kandanghaur guna rapat persiapan acara seminar dan workshop yang akan diadakan hari senin besoknya. Rapat di adakan di Aula PGRI Kecamatan, dengan dipimpin oleh Ketua PGRI Cabang Kandanghaur, Bapak Rosid, S.Pd. Pembahasan rapat mulai dari konsep acara, pemateri, jumlah peserta, dan lain sebagainya.

Rapat selesai, kita lanjut dengan membersihkan gedung Aula, karena kondisinya yang kotor, sebab gedung ini tiap hari dijadikan gelanggang olahraga bulu tangkis. Bisa dibayangkan kan kondisinya seperti apa??, botol minuman berserakan di mana-mana, berdebu, serta bekas makanan dan minuman tumpah di lantai yang membekas.

Pada awalnya, kita hanya ingin memasang banner saja, melihat kondisi yang seperti itu, akhirnya bersih-bersih pun dilakukan. Minim dengan peralatan kebersihan, bendahara pun inisiatif untuk beli sapu, So Klin Lantai, guna mengepel. Kegiatan bersih-bersih, ada yang menyapu, mengepel, mengganti batrei jam dinding yang mati, membersihkan debu yang ada di dinding. Pokoknya semua beralih fungsi jadi asisten rumah tangga.Lelah, letih, lunglai, ditambah dengan perut yang keroncongan, menandakan perut harus segera diisi campur menjadi satu. Alhamdulillah.. meskipun bukan nasi, hanya bakso dan mie ayam yang penting bisa mengganjal perut.  

Kegiatan di Kandanghaur, sebelum ke Bangdung, diakhiri dengan sholat dhuhur di masjid tak jauh dari tempat yang akan dijadikan tempat seminar dan workshop yang kami bersihkan tadi. Rencananya sich, habis sholat langsung go Bandung, ternyata eh ternyata... mungkin karena kecapekan semuda pada terlelap tidur di masjid tersebut. Bangun... Bangun... terdengar suara adzan sholat Ashar berkumandang.


Untuk cerita di Bandung, akan diceritakan tersendiri, ditunggu cerita berikutnya.....!! 

Foto Bersama di SD Negeri Soge

Pimpinan Rapat Dari Pengurus PGRI Cabang Kandanghaur


Peserta Rapat


Sebelum Dipasang Eksis Dulu


Ngepel Lantai


Bakso dan Mie Ayam Kandanghaur


READMORE